Selalu Bersepeda – Setelah beberapa waktu punya sepeda tinggi, akhirnya memberanikan diri untuk menggunakan sepeda tinggi untuk longride. Oh ya, sebelumnya juga nyoba long ride pakai sepeda 26 dengan rute yang cukup asik, menanjak dari kota Jogja ke Pantai di Gunungkidul, bisa disimak juga di sini: Long Ride Jogja – Gunungkidul Pake Speeda 26. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita pengalaman seru dan kocak menggunakan sepeda tinggi untuk longride Jogja-Banjarnegara-Jogja dengan jarak sekitar 315 kilometer.
Sepeda Tinggi Pariwisata
Perkenalkan terlebih dahulu, namanya Sepeda Pariwisata. Sepeda ini kalau buat temen-temen yang di Jogja mungkin sudah tidak asing karena sebelum saya rawat, ini adalah sepeda milik mas Triwe. Buat temen-temen pegiat sepeda di Jogja tentu tidak asing dengan Mas Triwe, dengan tattoo nya yang selalu menjadi pusat perhatian, heheheee. Semenjak Mei 2026 ini sepeda Pariwisata ber-decal ASUI!!! ini saya teruskan untuk merawatnya dan akhirnya memberanikan diri untuk test-ride lumayan jauh.

Rekomendasi Toko Sepeda:
Long Ride Dengan Sepeda Tinggi 300-an Kilometer
Keisengan untuk mencoba menggunakan sepeda tinggi untuk longride ini adalah bentuk “NEKAT” yang sedikit konyol. Selain karena menggunakan sepeda tinggi dengan groupset yang masih alakadarnya ini, pun juga pemilihan rute yang sedikit tak wajar. Kami berdua memilih rute Jogja-Purworejo-Kebumen-Karangsambung-Duren (Pagedongan)-Banjarnegara Kota-Kalilunjar dengan elevasi yang sangat sangat tidak manusiawi.
Jogja sampai Kebumen rute nya boleh dibilang masih enjoy walaupun harus menahan keabaran karena angin yang begitu kencang di Jl. Daendels. Jalur yang cukup membosankan, namun harus tetap dilewati dengan penuh keyakinan dan suka cita. Kami punya siasat untuk membuat perjalanan tidak membosankan yaitu dengan jargon “Disambi glewe-an mbok?” dengan aksen khas dialek Banyumasan, oh ya jargon itu ketika di Jaksel kan jadi “Sambil Bercanda Kali”.
Perjalanan kali ini tidak mengerjar waktu, tidak mengejar average speed tertentu, perjalanan kali ini benar-benar kami niatkan untuk perjalanan santai. Terbukti dengan beberapa kali kami berhenti hanya untuk membeli cilok, air mineral, hingga nasi padang.
Long Ride Dengan Sepeda Tinggi, Spek Shimano Tourney 5 Speed
Sepeda Pariwisata ini dibekali sprocket 9 speed 11-42T namun dengan RD Shimano Tourney yang sebetulnya belum support untuk 9 speed, alhasil yang bisa digunakan adalah sprocket dari nomor 4 hingga 8 saja, jadi hanya 5 speed saja dengan crank single speed! Memang ini bukan spek yang proper untuk longride, namun perjalanan kali ini adalah bentuk dari test-ride untuk menguji Sepeda Pariwisata untuk mengetahui titik mana saja yang kiranya perlu di upgrade. Selain itu juga dalam rangka melatih fisik, terutama kaki agar tidak termanjakan oleh groupset yang lebih proper.
Dari perjalanan ini didapatkan kesimpulan dan kemantapan hati untuk upgrade:
- Konversi ke DO verti biar bisa pasang Quick Release dengan nyaman
- Ganti RD ke Shimano Acera Long Cage
Banjarnegara Last Friday Ride
Perjalan kami dari Jogja dimulai pada kamis pagi 27 Agustus 2026 sekitar pukul 7.20 dan sampai alun-alun kota Banjarnegara sekitar pukul 21.00 dengan cuaca yang cukup dingin ditemani cahaya bulan yang nyaris purnama. Di kota Banjarnegara kami sempat mampir ke salah satu kedai kopi milik kawan, sebut saja Gandi sang pesepeda dan pelari kalcer, nama kedai kopi nya “Kopi Komplek“
Sekitar pukul 22.10 bergegas untuk melanjutkan 12 kilometer terakhir dengan tanjakan yang cukup melelahkan hingga akhirnya sampai di kampung halaman sekitar pukul 23.40 an. Kami bebersih, beres-beres, mandi, makan malam, hingga menyempatkan untuk ngopi di malam hari sebelum tidur.
Jum’at 28 Agustus 2026 kami berdua bergegas memulai perjalanan sekitar pukul 14.00 menuju kota Banjarnegara, kami sempat mampir ke bengkel sepeda untuk ganti as roda karena ban belakang sedikit bermasalah. Selanjutnya sembari menunggu acara BLFR (Banjarnegara Last Friday Ride), kami mampir ke salah satu kawan pegiat street art di Banjarnegara, sebut saja Bayu a.k.a Diamondsthree dengan unit usaha nya bernama Lapan Sembilan.

Setelah itu, pukul 19.00 kami bergegas menuju titik kumpul untuk kegiatan Critical Mass di Banjarnegara bernama Banjarnegara Last Friday Ride. Kami mengikuti kegiatan ini hingga akhir dan pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja sekitar pukul 22.00.

Belum lama bergegas, mungkin sekitar 15 menit kami berdua sepakat untuk makan malam agar siap menjalani perjalanan malam yang cukup dingin, tepatnya di daerah Sokanandi, Banjarnegara, mampir ke penjual nasi goreng untuk memesan Nasi Goreng pedas dan juga tak lupa teh hangat. Oh ya, sebelum makan kami juga sempet berhenti di penjual helm & aksesoris untuk membeli sarung tangan karena malam itu begitu dingin. Keputusan untuk membeli sarung tangan 10 ribuan itu adalah keputusan yang sangat tepat!

Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan dengan jalanan yang cukup senggang, tidak banyak kendaraan yang lewat, hanya ada beberapa truck besar dan bis yang menemani kami sepanjang perjalanan. Setelah itu, sebelum masuk pasar Kretek, kami memutuskan untuk istirahat di Masjid, tidur di serambi masjid sekitar pukul 01.00 dini hari hingga pukul 03.00. Lanjut perjalanan, sampai pasar kretek kita cari sarapan, sego megono + mendoan anget dan tidak lupa memesan teh hangat lalu dicampur tolak angin untuk menambah daya tahan tubuh.
Perjalanan dilanjut, memasuki daerah sapuran kami mampir masjid, cuci muka berasa perih karena air nya begitu dingin! setelah cek di cyclocomp, ternyata suhu menunjukan angka 11 derajat celcius, gokil!


Setelah masuk Sapuran, lanjut ke arah Maron dan kami sempet berhenti lagi di jam 7 pagi untuk tidur sampai sekitar pukul 9 pagi. Menyempatkan mandi juga biar badan kembali segar, lanjut ke arah Purworejo, dan menuju ke Jogja. Di akhir perjalanan itu, energi sudah habis, tapi jargon masih tetap kami rapalkan “Disambi glewe-an mbok?”.
Sampai daerah Sentolo sudah cukup malam, jika dilanjutkan gowes posisi nanjak mungkin sampai Jogja bisa pukul 12 malam lebih. Akhirnya nge-cheat dikit, menginstall aplikasi Lalamove dan order Lalamove dari Sentolo sampai ke pasar Gamping. Setelah itu lanjut gowes lagi sampai kontrakan, menghemat tenaga karena sudah terlalu lelah dan mempertimbangkan esok hari bekerja agar tidak tumbang. Walaupun sudah dibantu dengan cheating, tetap saja badan tidak bisa fit, beberapa hari setelah longride terasa sedikit demam dan batuk pilek. Alhamdulillah tidak sampai tumbang, hanya saja kondisi tidak maksimal.
Begitu kiranya cerita perjalanan longride dengan sepeda tinggi. Ini menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran untuk kami berdua. Terima kasih untuk kawan-kawan yang sempat bertegur sapa selama perjalanan kami, 3 hari, 315 kilometer menjadi pengalaman yang tak terlupakan!
Barangkali ada yang tertarik nyoba rute ini bisa saya kirim untuk GPX nya, kira-kira gambaran rute dan elevasi nya seperti ini:

Penutup
Terima kasih untuk pembaca blog Selalu Bersepeda ini, dengan kalian membaca tulisan ini maka semangat kami untuk menulis akan semakin terjaga. Semoga blog ini juga bermanfaat untuk siapa saja, baik untuk pembaca maupun untuk penulis. Jangan lupa ikuti akun tiktok @selalubersepeda , instagram @selamathariair dan youtube Selalu Bersepeda


