Jogja Last Friday Ride 195 Finish di Malioboro

Critical Mass Nyata di Jogja Last Friday Ride 195

Selalu Bersepeda – Ingatkah kita semua dengan salah satu video di akhir bulan Juni 2026 yang mana beberapa kawan pesepeda di Jogja diberhentikan aparat dan mendapat represi dari mereka? Jika belum mengetahui dan belum melihat video tersebut, akan kami sematkan di bawah ini. Namun sebelum menuju video tersebut, mengapa tim Selalu Bersepeda memilih judul “Critical Mass Nyata di Jogja Last Friday Ride 195” di tulisan kali ini? Ya, karena JLFR di beberapa tahun terakhir sudah banyak pesepeda yang bisa dibilang “fomo” dan belum mengerti apa maksud dibalik JLFR dan gerakan Critical Mass.

Sebuah gerakan yang pertama kali dimulai di San Francisco pada tahun 1992 dan dengan cepat menyebar ke ratusan kota di seluruh dunia ini, mungkin masih banyak yang belum mengetahuinya. Lalu apa tujuan dari Critical Mass? tujuan nya adalah sebagai bentuk kritik untuk mendapatkan hak pesepeda di jalan raya. Begitu juga di Indonesia, gerakan Critical Mass ini pun harusnya demikian, menyuarakan kembali hak pesepeda di jalan raya, dimana jalur sepeda harusnya bisa digunakan secara aman tanpa harus berebut dengan pengguna kendaraan bermotor, tidak digunakan untuk parkir sembarangan, dan lain sebagainya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Pit Dhuwur Yogyakarta (@tallbike_yk)

Rekomendasi Toko Sepeda:

Jogja Last Friday Ride

Gerakan kolektif JLFR (Jogja Last Friday Ride) ini sudah ada sejak tahun 2010. Berlangsung secara konsisten hingga hari ini, yaitu bersepeda keliling kota Jogja yang biasanya start dari stadion Kridosono dan finish di Jl. Mangkubumi (selatan Tugu Jogja). Kenapa dinamakan Jogja Last Friday Ride? karena dilakukan di setiap hari jum’at terakhir di setiap bulan nya. Hal ini juga berhubungan dengan Critical Mass yang mana dilakukan juga di hari jum’at. Untuk mendapatkan informasi seputar JLFR bisa ikuti instagram @jogjalastfridayride.id atau bisa ikuti di akun facebook jogjalastfridayride.

JLFR Bersuara

Muncul beberapa postingan yang merespon kejadian pesepeda yang dilarang melintas di Jl. Malioboro, dimana poster-poster seruan mulai disebar di media sosial. Beberapa yang kami temui di sosial media adalah sebagai berikut:

JLFR Bersuara

Gerakan Critical Mass seperti JLFR ini memang bergerak begitu cepat dan sporadis, setelah adanya kasus represi dari aparat di akhir bulan Juni 2026, beberapa pegiat JLFR berkumpul, berembug dan juga buka suara kepada media. “JLFR bukan lahir karena ingin menguasai jalan, JLFR lahir ketika Jogja perlahan kehilangan ruang bagi warganya” tertulis di poster digital yang sudah menyebar ke berbagai media sosial.

Salah satu postingan milik akun @glensaimima di instagram, belum lama ini juga membagikan satu postingan yang bisa jadi ini adalah bentuk konsolidasi para pegiat sepeda di Jogja. Dalam unggahan nya tertulis caption:

Dan… momen itu akhirnya tiba.

Bersama para penjaga nurani kota: Mas Elanto Wijoyono, Bintang Hanggono, Thomas Widiyanto, Agung Botol, dan Triwe. kompatriot idealis Jogja Jumat Malam Terakhir

Yang masih percaya, jalan bukan hanya koridor kendaraan, melainkan ruang hidup. Jalan bukan pelengkap proyek., ruang publik bukan komoditas.

Hak atas kota adalah hak setiap warga. Dan hak itu tidak diberikan sebagai hadiah, tetapi dipertahankan melalui keberanian untuk terus bersuara. Selama ruang publik masih berpihak pada yang kuat, kami akan terus berdiri bersama mereka yang paling rentan: Pesepeda

#jogjalastfridayride

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Fahmi Saimima (@glensaimima)

 

Dari hasil pertemuan tersebut, muncul beberapa tulisan di media masa, salah satunya dirilis oleh Radar Jogja pada Senin, 6 Juli 2026. Di berita tersebut seseorang yang dihubungi sebagai narasumber adalah sosok yang dulu sempat viral di tahun 2025 karena keberanian nya menghadang rombongan konvoi Harley Davidson, siapa lagi kalau bukan Pak Elanto wijoyono.

“Pemerintah seharusnya memahami konteks kemunculan JLFR sebagal gerakan sosial, bukan hanya melihat dampaknya terhadap arus lalu lintas. “JLFR Itu sebagal bagian dari aksi kolektif warga untuk mengkritik tata kelola ruang kota, bukan sekadar persoalan kemacetan jalanan. Pemerintah harus tau itu” untkap Elanto.

Beliau juga mempertanyakan wacana pelarangan rombongan pesepeda melintasi kawasan Malioboro. Menurutnya, hingga kini tidak ada dasar hukum yang melarang kendaraan tidak bermotor menggunakan ruas jalan tersebut. Malioboro, kata dia, merupakan jalan umum yang digadang-gadang pemerintah kota maupun Pemproy DIY sebagai kawasan rendah emisi “Akan ironis kalau sepeda malah dilarang melintas,” katanya.

Radar Jogja - JLFR Buka Suara

Siap Meramaikan Jogja Last Friday Ride #195 (31 Juli 2026) kan?

Semakin dilarang tentu keresahan semakin muncul, dengan adanya wacana larangan JLFR melintasi Jl. Malioboro menjadikan para pesepeda semakin lantang menyuarakan kampanye untuk bersepeda. Berikut ini beberapa poster yang tim Selalu Bersepeda temui baik di thread, facebook, maupun instagram.

Poster JLFR 195 Juli 2026

Poster JLFR 1 - Selalu Bersepeda

Poster JLFR 2 - Selalu Bersepeda

Poster JLFR 3 - Selalu Bersepeda

Poster JLFR 4 - Selalu Bersepeda

Empat poin di atas mestinya dibaca lagi oleh oknum yang kemarin sempat memberhentikan pesepeda di Jl. Malioboro, sebetulnya sudah malas menggunakan kata oknum, karena hari ini kata oknum sudah menjadi bagian dari cara cuci tangan yang paling ampuh untuk membersihkan sesuatu yang kotor!

Selain beberapa gambar di atas, sudah tersebar juga poster-poster yang bertuliskan “SEMUA FINISH DI MALIOBORO”, lagi-lagi ini adalah bentuk dari protes terhadap larangan sepeda melintas di kawasan Jl. Malioboro khususnya peserta JLFR.

#JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - tenang pak, ini cuma sepeda #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Sepedane Bebas, sikape waras #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Keras pada gagasan, tetap santun di jalan #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Yang direbut bukan jalan, tapi masa depan kota #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Kami tidak menutup jalan, kami membuka ingatan #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Ruang Kota Untuk Warga #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Dilarang Jalan, Tambah Kawan #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Kami Ada dan Berlipat Ganda #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Semakin Direpresi Semakin Beraksi #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Wani Ngepit Wani Tertib #JLFR Juli 2026 - Semua Finishi di Malioboro - Ngalor Ngidul Ngetan Ngulon

Jika kalian membaca tulisan ini kemudian berencana mengikuti aktivitas JLFR 195 di 31 Juli 2026 nanti, pastikan kalian semua punya kesadaran bahwa Critical Mass adalah bentuk perjuangan. Jangan jadikan JLFR ini hanya ajang untuk bersenang-senang yang akhirnya menjadikan citra buruk JLFR di mata masyarakat. Tetap gowes santai, tertib, gunakan lampu untuk keselamatan, tetap santun dan jaga kawan-kawan di sekitar.

Sampai jumpa di JLFR 195 (31 Juli 2026)!

Penutup

Terima kasih untuk pembaca blog Selalu Bersepeda ini, dengan kalian membaca tulisan ini maka semangat kami untuk menulis akan semakin terjaga. Semoga blog ini juga bermanfaat untuk siapa saja, baik untuk pembaca maupun untuk penulis. Jangan lupa ikuti akun tiktok @selalubersepeda , instagram @selamathariair dan youtube Selalu Bersepeda

Cek Video Selalu Bersepeda:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *