Selalu Bersepeda – Di akhir Juni 2026 kami berdua melakukan perjalanan santai (longride Jogja-Gunungkidul) menggunakan sepeda 26, sebut saja kami adalah Damar & Ipong. Dengan sepeda 26 Armada (produk lokal, Magelang) dan sepeda Hermes Champion All Terra, kami memulai perjalanan dari Wirobrajan, Yogyakarta tepatnya start dari sebuah studio desain dimana kami berdua bekerja, Wigi Wigel Studio. Jum’at, 26 Juni 2026 kami memulai perjalanan sekitar pukul 07:00 wib, dengan rute Jl. Sugeng Jeroni, Jl. MT. Haryono, Jl. Kolonel Sugiono, Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Ngeksigondo, Jl. Gedongkuning, kemudian melintasi Jl. Wonosari.

Sepeda 26 Spek Touring
Nah, sebelum cerita tentang perjalanan yang seru, tulisan ini akan saya mulai dengan mengenalkan 2 sepeda spek touring. Sebetulnya tidak ada kriteria khusus sepeda dikatakan sepeda touring, sepeda gravel, sepeda commuter, yang paling penting menurut kami adalah fungsi dan tepat guna. Kenapa tepat guna? ya begini, misalnya pengin sepedaan agak cepet untuk olahraga dengan jarak 50-100 kilometer tektok langsung, ya pilihan nya jatuh pada sepeda roadbike. Kemudian kalau sepeda untuk berangkat ke studio yang jaraknya hanya 2-4 kilometer, ya cukup pakai sepeda 26 bahkan sepeda lucu seperti sepeda tingkat yang saya punya, next akan saya bahas tentang sepeda tingkat yang saya beri nama “Sepeda Pariwisata”.
Oke, seperti yang sudah ditulis di awal, disebutkan di atas tentang sepeda Armada dan sepeda Hermes, kami sebut sepeda ini sebagai sepeda touring. Mengapa demikian? nah kita bahas satu per satu di bawah ini:
Rekomendasi Toko Sepeda:
- Groupset: penggunaan groupset 3×8 menjadikan sepeda ini cocok untuk touring, siap nanjak dan untuk datar juga cukup bisa ngejar di speed 30 kilometer per jam. Untuk sepeda Hermes, saya gunakan RD Sora 8/9 speed dengan sprocket 11-36 dan menggunakan crank set 3 speed: Shimano Altus MT210 (40t-30t-22t) Arm 170mm.
- Saddle Bag: dengan saddle bag merk URBNCASE yang muat di isi baju ganti, jaket, dan beberapa perlengkapan untuk touring, tas ini recommended untuk kalian yang sedang cari saddle bag dengan harga di bawah 400 ribuan, cek di sini: Saddle Bag URBNCASE Rolltop Mini.
- Rak Depan: kalau touring tentu barang bawaan cukup banyak, jadi penggunaan rak depan akan sangat membantu untuk menaruh barang bawaan. Bisa untuk bawa perlengkapan tidur, kebetulan kami bawa hammock untuk tidur dan bisa untuk tempat makanan atau jajan.
- Gelas Touring: satu yang cukup penting dan bisa dibilang touring banget adalah penggunaan gelas enamel yang dicantelin ke saddlebag, wah ini kalau orang-orang liat langsung dalam hati mereka berkata “wah ini anak touring banget”


Untuk penampakan gelas touring seperti apa? Oke, saya akan sematkan foto gelas touring yang wajib kalian bawa juga ketika longride biar semua orang yang melihat akan merapalkan mantra “wah touring banget tuh”

Longride Jogja-Gunungkidul Santai Tanpa COT (Cut-Off Time)
Kami berdua sepakat sebelum berangkat, bahwa ini adalah perjalanan santai tanpa harus mengerjar apapun. Kalau capek istirahat, kalau laper berhenti cari makan atau cari jajan, bahkan kalau perlu mampir buat foto-foto pun sangat selow. Kesepakatan ini yang membuat perjalanan kami terbilang lancar dan bisa dibilang tidak terlalu capek. Eh walau tak ada COT, tapi kita punya juga rencana ketika di jalan, misalnya “nanti jam 9 pas kita mampir sarapan ya, sedapetnya, soto atau ramesan”. Selain itu juga karena kami melangsungkan perjalanan di hari Jum’at maka punya rencana kalau jam 11 pagi kami harus berhenti cari Masjid, untuk mandi dan istirahat, jum’at-an dan tentunya untuk ngopi.
Dua waktu yang direncanakan tersebut berjalan sesuai harapan, kami sarapan di jam 9 pagi dan kami berhenti, menemukan masjid di sekitar jam 11 lebih sedikit. Sempet numpang mandi, bebersih, ganti baju, Jum’at-an dan nyempetin buat rebahan bentar dan juga menyeduh kopi, kebetulan di Masjid disediakan dispenser, gula, teh, kopi, dan juga disediakan gelas. Dari jam 11 pagi, kami baru melanjutkan perjalanan sekitar pukul 13.45 wib sangat amat santai untuk sebuah perjalanan jauh.

Mengatur Ritme Untuk Tanjakan: Longride Jogja-Gunungkidul
Sebelum istirahat di Masjid sebetulnya sudah dihajar tanjakan Bukit Bintang yang cukup panjang. Setelah selesai istirahat, mulai lagi naik turun, pokoknya selalu percaya dengan istilah “setelah ada turunan pasti akan ada tanjakan”. Sedikit berbagi tips untuk kalian yang masih suka merasa tanjakan sangat menyebalkan. Yang perlu dilakukan sebetulnya adalah mengatur ritme, mencoba lebih sabar karena kebanyakan orang ketika ketemu tanjakan adalah menggowes dengan sangat cepat berharap cepat sampai puncak. Hal tersebut membuat tenaga cepat habis, bikin heart rate naik yang pada akhirnya membuat gampang capek dan nyerah.
Ketika ketemu tanjakan, ketika kayuhan sudah mulai terasa berat maka yang perlu dilakukan adalah shifting ke sprocket yang lebih besar. Dan saat shifting ke sprocket sudah mulai di gear besar maka jangan lupa untuk ikut menyusul memindahkan shifter FD agar rantai turun ke chain ring yang lebih kecil. Kombinasi chain ring paling kecil dengan sprocket (belakang) yang paling besar akan membuat kayuhan terasa ringan. Namun yang perlu diingat adalah kayuhan ini akan mengerakan roda berputar sedikit demi sedikit, jadi jangan terlalu cepat gowesnya. Kalau gowes terlalu cepat akan mudah lelah, jadi kita perlu pelan-pelan saja, nikmati ritme nya dan atur pernafasan.

Singgah Sejenak Ke Tempat Warga Lokal
Karena ini sepedaan santai, maka banyak waktu yang dihabiskan untuk berhenti, singgah sejenak. Beberapa hari sebelum perjalanan ini direncanakan, sudah menghubungi kawan (warga lokal) Tepus, Gunungkidul, perkenelakan namanya adalah Berie. Kawan lama yang mungkin sudah 3-4 tahun tak jumpa, hanya tegur sapa lewat socmed dan whatsapp saja, akhirnya saya temui, bahkan mampir ke rumahnya.
Suguhan teh hangat dan cemilan sembari ngobrol ngalor ngidul, mendengar cerita tentang keberanian nya untuk pulang ke kampung halaman setelah merantau di Jogja. Berie ini adalah seorang penggemar FSTVLST yang dulu hampir di setiap panggung FSTVLST dia selalu muncul di barisan terdepan, menggunakan celana bermotif tengkorak ala Farid Stevy dan kerap crowd-surf. Selain sebagai penggemar musik, dia juga pelaku musik, proyek solo nya bernama Berieroots yang sudah merilis single Hujan di Pelupuk Mata (2024) dan Bercerita (2025), untuk menikmati karya tersebut bisa cek di spotify: Berieroots.
Tips: ketika ada waktu istirahat, di sini sangatlah penting untuk re-charge battery baik itu HP, kamera, lampu, maupun cyclocomp

Akhirnya Bermalam Di Pantai, Bukan Hanya Wacana
Wacana bike to camp atau sepedaan yang bermalam di alam terbuka adalah wacana wacana dengan banyak orang. Ada yang ngajak, saya iyakan namun tak kunjung jadi, oleh karena itu ketika ajakan Damar untuk sepedaan ke Gunungkidul langsung saya iyakan. Hal tersebut akhirnya direalisasikan setelah 2 minggu ide tersebut muncul, kami pilih tanggal dimana waktu libur kami bisa diambil dan cocok. Sampailah kami di Pantai Indrayanti sekitar Maghrib, kemudian mencari tempat yang cocok untuk bermalam. Muter-muter dan tak kunjung menemukan tempat, akhirnya kami sempatkan untuk makan di warung, sekalian numpang sholat maghrib dan isya.
Setelah itu mencoba ke arah pantai Sundak sampai ke camp area dan di sana ramai tenda wisatawan, sepertinya kurang cocok untuk kami karena tidak ada pohon yang bisa kami pakai untuk memasang hammock dengan pas. Putar balik dan sebelum keluar pantai Sundak, nemu dua pohon dan tiang bangunan yang bisa kami fungsikan untuk memasang hammock. Dipasanglah kedua hammock, setelah itu kami bebersih, ganti baju, nyempetin ngopi dan ngemil jajan, dan terlelap di bawah langit pantai Sundak.

Masih banyak cerita tentang longride Jogja-Gunungkidul, banyak keseruan di perjalanan pulang karena kami pertama kali melewati JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan), nah tulisan ini mungkin saya sudahi di sini, saya sematkan video dokumentasi dengan konsep RAW DOCUMENTATION yang terinspirasi dari RawDocRaw nya Mas Kiki Retake.
Penutup
Terima kasih untuk pembaca blog Selalu Bersepeda ini, dengan kalian membaca tulisan ini maka semangat kami untuk menulis akan semakin terjaga. Semoga blog ini juga bermanfaat untuk siapa saja, baik untuk pembaca maupun untuk penulis. Jangan lupa ikuti akun tiktok @selalubersepeda , instagram @selamathariair dan youtube Selalu Bersepeda


